Maharaja dan Budaknya

Adalah seorang maharaja yang mempunyai budak yang sangat ia cintai dan yang, ia yakin, mencintainya dengan segenap dirinya. Tetapi maharaja itu menghendaki kepastian. Maka dipenuhinya sepuluh kamar dengan timbunan segala macam harta tak terbayangkan... batu rubi dan zamrud, berderet mutiara hitam besar-besar, lemari-lemari penuh pakaian termahal dan langka, naskah-naskah bergambar paling memukau, dompet-dompet kulit besar berisi akta rumah dan tanah negara. Ketika
kamar-kamar itu sudah penuh harta se gala rupa, dan dinding-dindingnya tampak gemerlap dan mengkilap dalam cahaya kemegahan sebegitu rupa,
Maharaja memanggil semua kerabat istana, seluruh pelayan, dan budaknya. "Hari ini kubebaskan kalian dari kewajiban melayaniku," katanya. "Kalian sepenuhnya bebas mengambil apa saja yang kalian mau dari kamar-kamar dihadapan kalian." 
Bisa kau bayangkan betapa gaduhnya! Bahkan Perdana Menteri, yang sehari-harinya tampak sebagai orang yang tegas, mulai menari-nari lincah dan meraup sebanyak mungkin mutiara dan surat-surat rumah yang bisa ia ambil.

“Tapi budak yang sangat dicintai Maharaja tidak bergerak,”.

Ia tetap berdiri di tempat semula, diam. Wajahnya memandangi Maharaja sampai seluruh harta tandas, dan hanya dia dan Maharaja yang tersisa dipadang pasir ruangan kosong. Maharaja bertanya kalem,

"Dan kau, yang tetap tinggal dan tak mengambil sesuatu pun untuk dirimu, apa yang kau inginkan? Kau boleh memiliki segala yang kupunyai di dunia ini." Budak itu tetap tidak mengucap sepatah kata pun, hingga Maharaja nyaris berteriak, "Apa yang kau  mau?  Kuperintahkan  kau  mengatakannya padaku!" Dan budak itu berkatalah, "Aku ingin engkau." Itulah yang ia, Sufi sejati, inginkan.. bukan istana, kekuasaan, atau mutiara dan anugerah lain dari Maharaja --- melainkan sang Maharaja sendiri.